(Bag. 2) Bagaimana Hubungan Kita dengan Bumi?

Allah telah mempersiapkan bumi dengan berbagai bentuk; dataran tinggi dan dataran rendah, lembah dan pegunungan, berlumpur dan berpasir. Allah juga telah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan di bumi berupa pepohonan, tumbuhan, hewan-hewan, burung dan sebagainya. Bumi itu seperti ibu, di dalam perutnya mengandung semua jenis anak. Bumi mengeluarkan untuk manusia dan hewan apa yang diizinkan oleh Tuhannya untuk dikeluarkan, baik mereka ketahui maupun tidak. “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang ada di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.” (QS. Al Kahfi: 7-8)

Allah menjadikan mata rantai tatanan lingkungan hidup yang mampu menghidupkan manusia dari generasi ke genarasi. Allah mengumpulkan kita semua yang masih hidup di permukaan bumi ini. Kemudian setelah kita mati, dikuburkan untuk kelak dibangkitkan di hari berbangkit manusia melihat balasan perbuatannya biarpun yang sebesar dzarrah. 

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat). Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?” Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. Az Zalzalah: 1-8)

Maka mari sempatkan waktu untuk kembali merenungi dan bersungguh-sungguh menjalankan tujuan kita berada di dunia yang fana ini. Sebagai Muslim, tidak pernah bosan mengulang pelajaran seputar rukun Islam yang pertama, yaitu mengilmui dan mengamalkan dua kalimat syahadat. Sebagai anak bangsa pun kita telah diajarkan oleh para ulama pendiri negeri kita tercinta dalam pancasila sila pertama; Ketuhanan Yang Maha Esa. Walaupun Allah memerintahkan kita untuk beribadah hanya kepada-Nya, bukan berarti Allah membutuhkan ibadah hamba-Nya. Manusialah yang butuh terhadap ibadah yang Allah perintahkan. Kita hanyalah seorang hamba yang sangat fakir, sangat butuh pada pertolongan Allah. Seluruh makhluk bergantung kepada Allah Yang Maha Kaya. Seluruh makhluklah yang merendahkan diri di hadapan-Nya. “Hai manusia, kamulah yang sangat butuh kepada Allah; dan Allah Dia-lah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *