Motif Masuk STIBA Makassar dan Fakultas Hukum KSU Riyadh

Diantara malam ahad yang paling berkesan dalam hidupku saat SMA sekitar tahun 2005, ketika pertama kali menghadiri majelis kajian hadits yang diisi oleh Ustadz Muhammad Yusran Anshar, P.hD hafizahullah. Di sekolah, kami ada kajian rutin pekanan yang diinisiasi oleh kakak  dengan mendatangkan pembina dari UNHAS. Ustadz Rahmat Camba hafizahullah, salah satu Pembina kajian rutin inilah yang mengajak kami. Beliaulah yang memperkenalkan kami banyak hal tentang kota Makassar, termasuk bagaimana kehidupan mahasiswa. Padahal ayahku sendiri rahimahullah tumbuh dan dibesarkan di kota Makassar (tepatnya begitu dekat dengan Phinisi UNM saat ini), tapi beliau malah lebih banyak memperkenalkanku dengan Bone. Kembali mendengar nama STIBA untuk yang kesekian kalinya, tapi belum sempat menemuinya. Setiap orang yang menyebutnya, terlihat menyimpan kerinduan untuknya. Jadi penasaran, seperti apa sebenarnya wujud kampus tersebut.

Shalat tarawih di masjid kampus STIBA (2005) menjadi momen pertemuan perdana yang sangat indah, melengkapi warna-warni masa putih abu-abu. Keluarga yang juga alumni STIBA, beberapa kali khutbah jumat di masjid di kampung, beliaulah yang mengajak. Mungkin saja sejak malam itu aku mulai jatuh cinta dalam diam pada STIBA. Bahkan saat sudah kuliah di UNM, selalu berusaha untuk menemuinya. Setelah berlalu beberapa masa, ternyata aku berkunjung ke STIBA hanya untuk mengikuti kajian tertentu yang diisi oleh Ustadz Yusran Anshar hafizahullah. Apa jangan-jangan aku jatuh cinta pada ustadznya, bukan pada kampusnya? Mengalihkanku dari setiap gedung dan lorongnya. Jika demikian, apa aku salah? Setiap kali merasa lemah dan lelah, aku benar-benar rindu untuk duduk di majelis beliau. Mungkin belum layak disebut sebagai murid yang baik, meski pernah menjadi salah satu mutarabbi beliau. Mungkin belum bisa memberikan khidmah yang seharusnya seorang murid lakukan, tapi aku mencintainya karena Allah, hafizahullah. Semoga Allah memberikan balasan yang jauh lebih baik.

***

Liburan musim panas menjadi begitu terasa teduh dengan mengikuti majelis kajian tadabbur al Qur’an yang diisi oleh Syekh Prof. Dr. Saad bin Nasser Al-Shithri hafizahullah pada 10 malam terakhir (1435 H) di Masjidil Haram. Sejak saat itu, selalu mengikuti kajian beliau. Hingga bertanya-tanya pada diri sendiri, apa jangan-jangan motif aku masuk di Fakultas Hukum & ilmu Politik KSU karena beliau sebagai pengajar tetap di sana? Dan jika demikian, apa salah? Hanya ingin duduk lebih dekat menikmati hidangan ilmu yang disampaikan sekaligus belajar adab, tanpa menafikan guru-guru yang lain hafizahumullah. Jadwal beliau mengajar di kelas kami, 3 hari dalam sepekan dan sangat jarang tidak masuk, karena salah satu indikator penting penilaian beliau memang persoalan kehadiran dan keaktifan di kelas. Alhamdulillah punya kesempatan untuk mendiskusikan banyak hal dan menyampaikan aspirasi secara langsung dalam kapasitas beliau sebagai penasihat kerajaan, khususnya persoalan sistem yang banyak dihadapi tenaga kerja asing seperti sistem kafala atau sponsorship dan persoalan penegakan hukum. Tentu saja menjadi catatan penting, tidak menjadikan kita fanatik pada sosok guru tertentu.

***

Setiap kita mungkin punya pemicu awal yang memotivasi untuk menentukan sebuah pilihan atau dalam pengambilan keputusan penting dalam hidup. Lalu ada yang motivasinya berubah, entah ke arah yang lebih baik atau malah lebih buruk Allahul Musta’an. Dalam catatan singkat ini, sekaligus ingin memberikan klarifikasi singkat, bahwa aku tidak meninggalkan kuliah Business di UNM untuk masuk STIBA. Tapi aku meninggalkan UNM untuk fokus praktik berbisnis atas motivasi Rektor UNM sendiri waktu itu. Lalu aku meninggalkan bisnis yang mulai mapan untuk mencari ketenangan di STIBA atas motivasi orang tua. STIBA bukan batu loncatan untuk bisa kuliah di Luar Negeri, kampus di sudut Serambi Madinah itu, benar-benar menawarkan lingkungan yang sangat teduh dalam menuntut ilmu. Kamu yang akan kuliah di STIBA, akan menyadari bahwa bukan hanya tentang guru-gurunya, tapi ekosistem yang ada juga sangat mendukung dengan segala bentuk kesederhanaanya.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *