Cita-Cita Kamu Apa? Kapan Nikah?

Sejak kecil mama berharap aku masuk pesantren, tapi inti dari nasihat Ayah Rahimahullah yang paling membekas bahwa “belajar ilmu agama itu bukan sekedar formalitas, bukan sekedar untuk mendapatkan ijazah, bukan untuk mendapatkan pujian apalagi menjadi alat untuk mendapatkan pekerjaan tertentu. Kamu di pesantren atau di sekolah umum, ingatlah selalu bahwa belajar ilmu agama adalah wajib bagi setiap Muslim, perintah Allah dan Rasul-Nya.” Dari SD hingga SMA, ayah belajar di sekolah Muhammadiyah dan aku mengenal tauhid dan syirik pertama kali dari ayah. Saat itulah mama menceritakan bagaimana Ayah menolak tawaran peluang menjadi jaksa, saat kawan-kawan seangakatannya di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin pada menggunakan ijazah. Bagaimana Ayah menolak tawaran menjadi kepala sekolah swasta ternama karena berkawan baik dengan pemilik yayasan. Bagaimana ayah menolak tawaran menjadi kepala desa. Bagaimana ayah menolak tawaran peluang bisnis penginapan yang bisa dikembangkan menjadi perhotelan. Bagaimana ayah hanya beberapa kali mengelola perkebunan cengkeh dan coklat karena atas permintaan saudaranya. Bagaimana ayah tidak mempermasalahkan warisan. Ilmu hukum beliau digunakan untuk berpihak membantu membela orang-orang yang terzalimi, kebanyakan tanahnya direbut oleh orang-orang yang serakah. Meskipun kerap kali harus kecewa dengan ketidakadilan hukum yang terjadi di negeri ini. Ayah pun keluar dari lingkaran setan, di mana kecurangan dilakukan secara terang-terangan.

Akhirnya terjadilah kompromi, aku dimasukkan sekolah umum dan keluarga benar-benar menjadi madrasah pertama. Pertama kali sekaligus terakhir kalinya kakiku di pukul ayah dengan kayu hingga patah saat meninggalkan rumah sehari semalam tanpa izin karena membuat mereka khawatir. Pertama kali sekaligus terakhir kalinya mama menyeretku di jalan sekitar 50 meter hingga betis dan lutut berdarah-darah karena ketahuan bolos ngaji, beberapa hari hanya pergi memancing dan berenang. Kakak perempuan yang pertama mendidikku dengan sangat disiplin dan sabar dalam urusan sholat, kakak perempuan yang kedua rahimahallah kadang mencubit sampai menangis sendiri kalau tidak berhasil bangunkanku sholat shubuh atau malas-malasan jika disuruh orang tua.

Sejak SD kelas 4, aku bersahabat dengan putra imam masjid di kampung, seorang santri Aliyah yang kesibukannya fokus menghapal Al-Qur’an dan mempersiapkan diri belajar ke Al Azhar Mesir. Dari sahabat masa kecilku inilah (meskipun beliau jauh lebih tua) yang pertama kali memperkenalkanku dengan kampus di Timur Tengah. Saat nginap di kamar beliau, setelah menyelesaikan murajaah, kita ngobrol tentang cita-cita. Sejak saat itulah aku pun selalu menyebut cita-cita ingin merantau dalam menuntut ilmu khususnya ke Mesir. Menempuh pendidikan di SD umum, tapi dalam aliran darahku sudah berdesir keinginan merantau menuntut ilmu di negeri Arab. Tambah semangat lagi saat beliau dinyatakan lulus di Universitas Al Azhar, Cairo. Semoga dengan pengantar singkat ini sudah sedikit menjawab pertanyaan yang bertanya “cita-cita kamu apa?” Sederhananya, aku sudah sedang menjalani cita-cita dan cita-citaku tidak diikat dengan program formalitas, berharap dengannya kelak bisa diberi kemudahan melewati shirath yang terbentang di atas neraka menuju surga. Berharap dengan menempuh rute perjalanan menuntut ilmu sebagai rute paling ringkas menuju surga dan bisa menjadi investasi terbaik kedua orang tuaku. Semoga Allah memberikan kita taufiq untuk istiqomah di atas jalan yang lurus.

Adapun “kapan nikah?” adalah dintara pertanyaan yang sejujurnya cukup sulit untuk kujawab. Inti dari belajar Fiqih itu tidak menjadikan seseorang mampu menjawab berdasarkan apa yang tertera dalam literatur kitab-kitab saja, tanpa pertimbangan realitas kekinian, waktu, keadaan, qarinah, adat dan kebiasaan. Tapi bukan berarti hukum-hukum syar’i yang bersumber dari al Qur’an dan Hadits bisa dirubah, seiring dengan perubahan waktu dan tempat. Dalam catatan singkat ini, bermaksud menyampaikan permohonan maaf dengan segala bentuk kata maaf kepada setiap yang bertanya “kapan nikah?” atau sejenisnya. Dan memang begitulah seharusnya cara berkenalan seorang laki-laki dan perempuan, jika laki-laki serius pada wanita, temui langsung kedua orang tuanya. Jika wanita serius pada laki-laki, minta orang tua atau walinya untuk menyampaikan niat baiknya.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *