Tahun 2021; Bertemu Direktur WHO, Investor Tesla, CEO McKinsey & Rencana Kuliah di Eropa

Awal tahun 2021, dapat undangan dari President of HPAIR, Harvard University untuk bertemu CEO of McKinsey, Tim Draper investor di Tesla, SpaceX, Twitter, Skype dll., Director General of the WHO, PM of Thailand, Inventor of Siri, Former Vice President of Alibaba, dan President Silicon Valley. Sebagai member, kali ini bisa ikut tanpa harus mengikuti proses seleksi dan tentu saja akan dilaksanakan secara virtual selama 4 hari. Bagi sebagian orang, bertemu mereka mungkin sesuatu yang biasa saja apalagi hanya secara online. Saat kami diajar mata kuliah Hak Asasi Manusia selama satu semester oleh salah seorang Imam Masjidil Haram Makkah Al Mukarramah Syekh Dr. Yasser Al Dosari, beliau banyak menceritakan pengalaman ketika masih aktif keliling berdakwah di berbagai negara di dunia khususnya di Eropa. Ketika hendak memahami sebuah isu, hendak mencari atau menyampaikan kebenaran, penting untuk membaca dan mendengarkan dari berbagai perspektif. “Kebenaran selalu hanya ada satu”, kalimat ini sudah tertancap kuat dalam memori dan membuat saya penasaran sejak SD, saat mendengar berulang kali diucapkan oleh tokoh fiktif Shinichi Kudo. Itulah sebabnya saya cukup antusias ketika meeting dengan salah seorang public figure Indonesia, diantaranya membahas mengenai edukasi generasi penerus bangsa melalui pengembangan produksi film animasi anak Indonesia.

Paragraf di atas sekaligus menjadi ringkasan jawaban dari pertanyaan; Mengapa berencana melanjutkan pendidikan di Eropa dan meninggalkan Saudi Arabia? Intinya bahwa belajar memahami kebijakan yang diambil oleh para pemimpin dunia, membaca peluang bisnis, mendengarkan para visioner di bidang teknologi melihat tren, menyimak para pelopor silicon valley, bukan berarti meninggalkan permasalahan agama, menggadaikan aqidah, melalaikan ibadah, meremehkan muamalah. Begitupun sebaliknya, mereka yang memahami ilmu agama bukan berarti meninggalkan persoalan dunia. Perdebatan yang tidak produktif lebih baik untuk ditinggalkan, tapi ada momen atau permasalahan tertentu yang mana kita dintuntut untuk menegakkan kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Membela kaum yang terzalimi. Menegakkan keadilan.

Diantara pertanyaan yang kerap kali ditanyakan dalam essay aplikasi pendaftaran di kampus Eropa seperti pada program Master in Global Governance Law, Master of International and Comparative Law, University of Helsinki, Finland (diantara program fakultas hukum yang paling saya cari setelah belajar perbandingan hukum Islam dan hukum positif di Timur Tengah); Apa motif memilih kampus dan program yang ditawarkan? Bagaimana pengalaman pendidikan sebelumnya? Dan apa rencana di masa depan? Berdasarkan pengalaman belajar di Fakultas Hukum dan Ilmu Politik di KSU Saudi Arabia, saya melihat  dan merasakan sendiri bahwa ruang akademik itu masih diberi kebebasan. Jika di negeri dengan sistem monarki saja saya bisa merasakan kebebasan dalam berpendapat bahkan sangat transparan, misalnya dalam membahas isu korupsi dalam negeri, maka seharusnya di negara yang menggaungkan demokrasi jauh lebih leluasa lagi.

Jadi, motif saya belajar di Eropa misalnya untuk aplikasi di University of Helsinki, karena selama tiga tahun berturut-turut, termasuk 2020, Finlandia menempati urutan pertama di dunia dalam hal kebebasan hak politik dan kebebasan sipil. Motif memilih program, karena selain mendalami hukum Uni Eropa juga menawarkan program pendalaman sistem hukum China. Rencana di masa depan yang saya tawarkan adalah berkontribusi dalam bidang Hukum Internasional untuk menanggulangi persoalan pengungsi di seluruh dunia, baik itu pengungsi akibat korban perang maupun pengungsi yang disebabkan bencana alam (efek kerusakan alam dan lingkungan, khususnya sampah plastik) yang saat ini belum diatur secara jelas dalam hukum internasional. Termasuk kejelasan hukum status kewarganegaraan para imigran, saya juga tertarik pada isu perdebatan mengenai kewarganegaraan global, secara spesifik mengenai kebebasan bergerak atau hak untuk perjalanan dalam konsep Hak Asasi Manusia.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *