Madrasah Jurnalistik IJC & JITU; Jatuh Cinta Lagi

Aku mulai jatuh cinta pada dunia menulis sejak SD kelas IV. Saat itu, diberi tugas oleh guru menulis pengalaman selama liburan panjang. Setelah menyelesaikan kurang lebih 10 halaman tulisan tangan “Berlibur ke Rumah Nenek bersama Adik”, aku menemukan sebuah dunia indah. Ternyata duduk menulis di atas kertas tidak kalah menyenangkannya dari berlibur itu sendiri. Penilaian dari guru berupa angka-angka mungkin biasa saja, tapi hal yang paling membahagiakan adalah ketika kedua orangtua memberikan penghargaan atas karya anaknya. Penghargaan sederhana, mereka hanya memintaku membacakan tulisan tersebut. Mama dan Ayah (Rahimahullah) menjadi pendengar yang baik hingga mata mereka berkaca-kaca. Lalu menghadiahkan sebuah buku tua yang sisinya telah dimakan rayap.

Kuungkapkan seribu satu rasa dalam kumpulan syair tulisan tangan selama SMA. Saat mengeditnya untuk kesekian kali di perpustakaan, meninggalkan draft tergeletak lalu masuk kelas. Setelah kembali, tulisan tersebut telah raib entah ke mana hingga hari ini. Setamat SMA dari jurusan Bahasa dan Sastra, mendapat kesempatan jalur bebas tes Ilmu Komunikasi UGM. Berhubung ada persoalan teknis, tidak jadi berangkat kuliah ke Yogyakarta meskipun keluarga sudah mempersiapkan tempat di sana.

Ramadhan tahun ini, baru saja menyelesaikan “Criminal Procedure Law” di Sekolah Hukum King Saud University. Diantaranya membahas seputar proses pembuktian dan proses penyidikan tindak pidana. Teknik interview dan interogasi diantara metode pemeriksaan. Itulah sebabnya pada saat diminta oleh PPMI untuk menjadi narasumber, lebih memilih untuk menjadi host PPMI Talk agar bisa belajar praktik interview santai atau berbentuk obrolan. Selain itu, tertarik mempelajari jurnalisme investigasi yang tentunya memiliki perbedaan dengan teknik interogasi.

Pada 19-22 Ramadhan 1441 bersyukur bisa mengikuti Madrasah Jurnalistik Ramadhan yang diselenggarakan Islamic Journalist Class (IJC) bersama Jurnalis Islam Bersatu (JITU) secara daring via WhatsApp Grup dan Google Meet. Hari pertama, panitia menghadirkan dua orang pembicara, yaitu Mahladi Murni selaku Anggota Dewan Syuro JITU sekaligus wartawan Hidayatullah.com dan Pizaro Gozali Ketua Umum JITU sekaligus jurnalis Anadolu Agency. Masing-masing membawakan topik Kode Etik Jurnalis Muslim dan materi Bahasa Jurnalistik. Sementara Hardjito, wartawan Al Jazeera yang tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia membagikan pengalamannya selama peliputan Covid-19 di tengah masa Movement Control Order (MCO). Sedangkan hari ketiga dan keempat, berturut-turut Muhammad Taher Saleh, editor CNBC Indonesia, menyampaikan materi tentang Jurnalisme Ekonomi, dan Rizki Lesus, penulis dan anggota JITU membeberkan kiat menulis feature Bencana Kemanusiaan.

Meskipun belum ada materi khusus jurnalisme investigasi, madrasah yang diikuti kurang lebih 350 peserta ini sepertinya telah membuatku jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada dunia kepenulisan. Bergaul dengan para jurnalis dan penulis semoga bisa memacu untuk lebih produktif lagi menulis. Semoga bisa saling merawat semangat untuk terus menulis. Bukan hanya menulis tugas-tugas kampus.

Aku tidak ingin mengisi kekosongan kertas. Selalu takut menulis sesuatu yang tidak bermakna karena kebodohanku. Ada beberapa draft buku yang pernah kuselesaikan, tapi selalu berakhir hanya dalam bentuk draft atau file yang kunikmati sendiri. Seperti beberapa file tulisan yang pernah tersimpan dalam komputer pentium 3 di rumah belasan tahun lalu. Mereka menghilang seiring menghilangnya komputer tersebut. Hingga hari ini, sesungguhnya kekhawatiranku dalam menulis adalah perasaan belum siap menghindangkan isi pikiran dalam sebuah nampan kepada orang lain. Mungkin aku bisa mulai belajar menulis dengan menuangkan perasaan dan kegelisahan. Memulai menulis sebuah proses. Semoga sebelum ajal menjemput, masih sempat untuk menyelesaikan kembali minimal satu draft tulisan.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *