Pesan untuk IM di Melbourne; Bukan dari Hafiz

Sudah 15 tahun lebih serius berjuang untuk menghapalkan Al-Qur’an, tapi hingga detik ini belum bisa menyelesaikannya. Mulai dari masuk pondok tahfiz hingga menghabiskan hampir seluruh liburan musim panas selama di luar negeri untuk ikut program daurah menghapal Al Qur’an, belum juga bisa sempurnakan 30 juz. Tapi, prosesnya itulah yang membuatku terus bersemangat untuk kembali kepada Al Qur’an di fase manapun yang kulewati dalam hidup. Aku iri sekaligus pengagum dalam diam orang-orang yang mampu menyelesaikan hapalan Al Qur’annya. Apalagi seorang yang dipahamkan oleh Allah tentang Al Quran kemudian dia membacanya di waktu malam dan siang hari serta mengamalkannya. Lebih keren lagi, mereka  yang sekolah di kampus umum dan juga bisa mengapal Al Qur’an.

Seharusnya engkau sudah faham betul konsekuensi bagi seorang yang diberikan nikmat untuk menghapalkan Al Qur’an. Termasuk yang paling utama adalah persoalan niat yang setiap saat harus selalu dievaluasi. “Apakah aku bersemangat untuk menghapalkan Al Qur’an untuk disebut sebagai seorang hafiz? Apakah aku belajar agama untuk disebut sebagai seorang alim? Apakah aku berdakwah untuk disebut seorang ustadz yang populer?” Biarkanlah hati kita masing-masing menjawabnya dan selalu memohon kepada Allah untuk tidak mempersekutukan-Nya. Dijauhkan dari syirik besar ataupun syirik kecil.

Sebagai mahasiswa di sekolah hukum, aku sudah membaca kasusnya dari berbagai versi termasuk siaran pers dari LBH Yogyakarta dan klarifikasinya. Tentu saja akan ada konsekuensi hukum dari pengakuan atas sebuah kesalahan. Sungguh wanita benar-benar menjadi ujian yang sangat besar bagi kaum lelaki. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita.” (QS. Ali Imran: 14) Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Silakan kau suruh aku menjaga rumah mewah penuh harta melimpah, namun jangan kau suruh aku menjaga wanita yang tidak halal bagiku meskipun berupa budak yang hitam legam.” Bahkan pasangan suami istri bisa mengharamkan apa yang telah Allah halalkan dan menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, atau melakukan dosa-dosa dan maksiat karena ingin saling menyenangkan hati pasangannya.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (HR. Ahmad) Bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari perbuatan dosa dan maksiat wajib segera dilakukan dan tidak boleh ditunda, baik dosa kecil apalagi dosa besar. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 110). Adapun dosa kepada sesama manusia, seperti menzalimi orang lain, menyakiti hati atau melecehkan kehormatannya, maka wajib baginya untuk meminta maaf pada yang bersangkutan. “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezalimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Bukhari)

Jika seorang dengan profil seperti IM mungkin melakukan perbuatan tersebut, apalagi mereka yang hidup secara “bebas”. Bahkan lebih parahnya, bisa dilakukan oleh mereka yang sudah menikah. Cuman mungkin banyak korban yang memilih untuk diam. Selain karena derajat wanita yang mulia di sisi Allah, kita semua pasti punya ibu atau saudara perempuan, tentu saja akan mengutuk dan mengecam setiap perbuatan yang melecehkan kaum wanita. Semoga keadilan bisa ditegakkan melalui jalur hukum.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *