Sistem Kafalah; Menunda Selesai dan Pulang Kampung

Sistem kafalah dalam tinjauan mazhab-mazhab Fiqh dan sistem hukum sipil di sebagian negara-negara Arab merupakan bidang kajian penelitian tugas akhir yang kami ajukan di Fakultas Hukum dan Ilmu Politik KSU. Fokus penelitian seputar studi kritis implementasi sistem kafalah pada Tenaga Kerja Asing di Arab Saudi. Pengumpulan data membutuhkan urusan administrasi yang cukup menantang, termasuk perizinan untuk mengakses data di beberapa kantor kedutaan, bahkan KBRI sendiri pun belum bisa langsung mengeluarkan izin tertulis di masa pandemi ini. Maka kami memutuskan menunda proyek penelitian, artinya menunda penyelesaian studi. Meskipun tentunya pihak kampus sudah memberikan keringanan untuk melanjutkan penelitian sebelumnya seputar implementasi intellectual security dalam pencegahan pemikiran menyimpang seperti terorisme. Ini bukan hanya tentang penyelesaian studi secara formalitas.

Konsep kafalah secara umum menurut ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah yaitu menggabungkan tanggungan dhamin (pihak yang menjamin) kepada tanggungan al-madhmun ‘anhu (pihak yang dijamin) didalam kewajiban menunaikan hak atau kewajiban menunaikan hutang. Tarjih yang diambil dosen kami mengikuti perkataan jumhur ulama bahwa dhaman atau jaminan menjadi tanggungan kedua belah pihak, yaitu pihak yang menjamin dan pihak yang dijamin. Baik itu berupa diri, benda, atau uang. Penjelasan ini sangat dekat dengan penjelasan dalam sistem hukum sipil modern di sebagian negara-negara Arab yang juga sudah terpengaruh dengan sistem hukum barat. Seperti qanun madani Mesir, Suriah, Al Jazair, Kuwait, Libia dll. Adapun sistem kafalah yang menjadi sorotan PBB berdasarkan hasil penelitian dari implementasi sistem kafalah di Qatar biasa disebut dengan sistem sponsor. Pelaksanaan sistem ini menjadikan hak pekerja migran menjadi sangat terbatas. Warga negara asing yang bekerja di bawah sponsor atau kafil sangat rentan dalam tekanan, rentan eksploitasi bahkan rentan human trafficking.

Diantara Professor yang dijadikan rujukan bahan ajar sistem kafalah di KSU berasal dari Beirut, punya pengalaman puluhan tahun mengajar di Lebanese Univ., Univ. d’Alger, Sorbonne Univ., dan saat ini mengabdi di King Saud University. Dosen yang mengajar kami di bidang ini punya pengalaman jadi lawyer puluhan tahun berasal dari Suriah yang sangat disegani oleh kalangan dosen. Alhamdulillah, waktu diajar Provisions of Intellectual Property oleh beliau bisa mendapatkan nilai sempurna. Semoga semester depan, bisa kembali bertemu beliau atau Professor yang bukunya dijadikan rujukan.

Jika pihak kampus khususnya fakultas membuka semester musim panas tahun ini, maka mungkin bukan hanya menunda selesai, tapi juga menunda pulang kampung. Saat ini, adik yang kuliah di Jakarta sejak belum diberlakukan PSBB sudah mempersiapkan diri untuk pulang kampung. Tapi, ibu selalu menasihatkan dalam pertemuan video call untuk berusaha bersabar menunda pulang kampung terlebih dahulu. Kami pribadi belum sempat mempersiapkan berkas pulang kampung karena masih ada ujian hingga akhir ramadhan. Setelah ujian akhir semester, sepertinya harus pulang kampung. Selain karena rindu, ada amanah bisnis yang harus segera diselesaikan. Tapi, jika sang Ibu yang memerintahkan untuk menunda pulang kampung artinya ada harapan dari hasil investasi amalan jariah pada putra-putranya yang merantau dalam menuntut ilmu. Lagi pula ada putri-putrinya yang selalu setia menemani, bahkan belum pernah safar meninggalkan kampung halaman. Setiap pilihan memang butuh pengorbanan.

Semoga dalam masa ujian ini, kita semua bisa memperbanyak mendapatkan warisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang berupa ilmu. Sungguh para Nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, tapi mereka mewariskan ilmu. « …Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.» (QS. Yusuf : 76) « …Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. » (QS. Al-Israa’ : 85)

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *