Pak Presiden, Mohon Jangan Rusak Mental Milenial!

Perkenalkan Pak Presiden, saya mahasiswa yang kuliah kurang lebih 10 tahun belum selesai S1. Bisa dibilang belum punya karya apa-apa. Bukan CEO perusahaan. Bukan founder atau direktur sebuah gerakan sosial. Ada rencana mendirikan perusahaan teknologi finansial bersama tim dari Dubai, tapi hampir setahun belum rampung karena hanya berkutat dalam urusan administrasi. Pastinya saya tidak punya relasi ke istana. Jadi, mungkin menurut Bapak,  sangat jauh dari standar kualifikasi staf khusus milenial yang sebagian sudah mengundurkan diri. Saya juga tidak sekritis milenial aktivis yang turun ke jalan atau aktif di media sosial yang sebagian sudah ditangkap.

Pesan ini dibuat di negeri gurun pasir, jika lebih senang untuk menyebutnya dari negeri onta, silahkan saja. Faktanya negeri ini memang ada banyak untanya. Tapi, jangan lupa juga kalau negeri ini diamanahkan sebagai pelayan dua kota suci. Pesan ini bisa jadi dianggap membuang waktu, tapi mungkin saja suatu hari akan sampai. Semoga kita sama-sama dihindarkan dari benih-benih keangkuhan dalam hati.

Kami hanya ingin memohon kepada Bapak Presiden, untuk membantu kami para milenial memperjelas tujuan hidup di dunia ini. Pada hakikatnya ini juga pesan untuk diri saya sendiri, adinda saya dan kawan-kawan lain yang ingin menyempatkan waktu untuk membacanya pada bulan Ramadhan di tengah wabah.

Hari ini, banyak milenial yang berlomba-lomba untuk menggapai popularitas. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan followers, loves, likes, atau subscribers. Banyak milenial yang bersungguh-sungguh belajar agar bisa masuk Perguruan Tinggi terkenal. Bekerja keras agar bisa membangun bisnis. Turun tangan bergerak dengan merintis project sosial. Banyak juga milenial yang belajar untuk terlihat pintar dan lebih hebat dari orang lain. Ada yang belajar serius untuk mengalahkan orang lain dalam berdebat. Apakah mungkin karena mereka benar-benar telah terinspirasi dan tertantang dari staf khusus milenial yang Bapak pilih? Atau memang begitulah karakter generasi milenial hari ini?

Menjadi populer tidaklah salah, karena dengan popularitas kita dapat menyampaikan pesan kebaikan dengan jangkauan yang lebih luas. Tanpa perlu sensasi.  Masuk Perguruan Tinggi terkenal tidaklah salah, mungkin ada banyak maslahat di sana. Semoga terhindar dari ilmu yang tidak bermanfaat. Mendapatkan kekayaan tidaklah salah, selama dengan cara yang halal dan tujuan kebaikan. Debat ilmiah itu dibutuhkan pada waktu dan tempat tertentu, untuk menegakkan kebenaran. Memiliki pangkat dan jabatan itu penting, agar bisa menegakkan kemaslahatan yang lebih besar. Tanpa ada konflik kepentingan.

Adapun inti pesan yang kami sampaikan adalah mohon bantulah generasi milenial yang masih berproses dalam menuntut ilmu, membangun bisnis, merintis gerakan sosial untuk meluruskan niat. Ilmu dan project sosial itu bukanlah alat untuk mencapai tujuan tertentu seperti pangkat, jabatan, kekayaan, kehormatan, popularitas, pujian dan kekaguman orang lain. Bantulah kami para generasi milenial untuk tidak mengotori niat dalam menuntut ilmu dan menjalankan pengabdian masyarakat. Pak Presiden, mohon jangan rusak mental generasi milenial dengan apa-apa yang bisa meruntuhkan komitmen dan idealismenya. Semoga ilmu yang kita pelajari dan setiap aktivitas yang kita kerjakan penuh dengan keberkahan.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah:5)

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *