Amerika, Thanks Sudah Menolak Visaku

Apakah kamu pernah merasa mendapat penolakan tanpa alasan? Itulah yang kurasakan sekitar 2 bulan lalu setelah menjawab 3 pertanyaan wawancara visa dari U.S. Consulate General Jeddah, Hial and Palestine Streets (alamat sudah pindah ke Al Muhammadiyah District). Pertanyaan pertama; Apa tujuan kamu ke Amerika? Singkatnya, kujawab bahwa mendapat undangan dari Harvard. Kedua; Apa pekerjaanmu? “Saya mahasiswa Internasional di King Saud University”. Ketiga; Jurusan apa? “Laws student at College of Law and Political Science”. Pewawancara diam beberapa saat dan mengecek berkas-berkas yang sudah diajukan via online, termasuk berkas kesiapan pembiayaan. Lalu, ia memberikan lembar penolakan. Aku meminta penjelasan alasan, mengapa mereka menolakku? Hanya dijawab, “You may reapply at any time.”

Tentu saja banyak hal yang sudah dikorbankan untuk sampai pada pengurusan visa, termasuk pengorbanan fikiran, waktu dan materi. Hari wawancara saja sudah berangkat Pukul 02.00 pagi ke bandara Riyadh menuju Jeddah. Tidak ikut 2 mata kuliah pun harus dikorbankan hari itu. Memilih wawancara di Jeddah karena jadwal di Riyadh sudah full sejak sebulan lalu dan belum menerima surat pengantar visanya. Siangnya langsung balik lagi ke Riyadh, mengikuti kelas “Negotiable Instruments and Bankruptcy” pukul 15.00, diajar oleh seorang dosen yang pernah belajar “Negotiation Skills” dan menjadi visiting researcher di Harvard Law School. Setelah perkuliahan usai, masuk ke kantor dosen tersebut menceritakan pengalaman hari itu. Beliau mengecek berkas-berkas yang kuajukan, lalu berkata “Seharusnya mereka tidak punya alasan buat menolak kamu, tapi sepertinya memang banyak yang sudah ditolak selain kamu. Sejak wabah di China, mereka semakin ketat untuk mengeluarkan visa. Tapi, yang paling penting adalah keyakinan bahwa akan selalu ada hikmah dibalik sebuah kejadian”. Dan beberapa waktu kemudian, terjadilah apa yang terjadi hari ini di mana Amerika menjadi negara dengan kasus COVID-19 tertinggi di dunia.

Ini semester terakhir di Fakultas Hukum & Ilmu Politik dan sejak tahun lalu aku sudah mempersiapkan berkas yang dibutuhkan untuk mendaftar di 20 kampus dunia diantaranya adalah top ten university. Sebagaimana persiapan berkas sebelum kuliah di Luar Negeri, aku hanya mempersiapkannya walaupun tidak benar-benar menggunakan berkas tersebut untuk mendaftar. Aku hanya ingin menjalani sebuah proses untuk memenuhi standar kualifikasi yang kampus butuhkan. Dari 11 kampus yang  benar-benar sudah siap berkasnya, hanya 5 kampus yang dikirim. Blavatnik School of Government, University of Oxford sudah memberi jawaban bahwa belum bisa menerima. Development Studies, University of Cambridge juga sudah memberi jawaban bahwa belum bisa memberikan penawaran kursi. School of Social Science and Humanities, Doha Institute sudah menerima tahap awal. College of Business Administration, King Saud University berkas sudah diterima kampus dan sedang menunggu jawaban dari Economics Department. Erasmus Mundus via Prague-Leiden-Barcelona juga masih menunggu jawaban. Memilih jurusan pulang kampung pun, masih harus menunggu jawaban kepastian.

Hari ini masih menjalani karantina 24 jam di asrama mahasiswa King Saud University. Entah sampai kapan ujian wabah ini akan berakhir. Diantara usaha terbaik yang bisa dilakukan hari ini adalah tidak keluar rumah, memperbanyak muhasabah dalam kesendirian khususnya di sepertiga malam terakhir yang sepi. Sebagai manusia kita hanya bisa berencana dan berusaha, tapi Allah ‘Azza wa Jalla Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hamba-Nya. Jadi mari maksimalkan saja apa yang bisa kita kerjakan hari ini, terus berharap bahwa akan ada hari esok yang lebih baik dan jangan pernah lupa berdo’a kepada Allah. “Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang senantiasa mengurus hamba-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon perlindungan. Kumohon perbaikilah semua urusanku. Dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.”

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *