Catatan dari Malaysia; Human Trafficking & Halal Industry

Awal Ramadhan tahun ini (1440 H) mendapat kesempatan untuk silaturrahim bersama kawan-kawan yang memiliki misi yang sama dari berbagai negara untuk melanjutkan semangat Muhammad Al Fatih, pemimpin termuda yang telah memberikan warna di kawasan Eropa dan Asia seperti yang tertuang dalam paragraf pertama proposal project konferensi yang kami ikuti. Selain penawaran bebas test untuk lanjut Master atau PhD di  International Institute for Halal Research and Training, International Islamic University Malaysia (INHART IIUM), penawaran Open Speech yang diberikan menjadi penting untuk sharing gagasan sehingga tidak sempat lagi ikut program Ramadhan di Madrasah Sultan Shalahuddin Al Ayyubi di kota suci Makkah Al Mukarramah seperti tahun sebelumnya. Hidup ini memang dipenuhi dengan pilihan, dan setiap yang kita pilih seharusnya sudah terukur dan siap dengan konsekuensinya.

Human Trafficking
Pada saat Open Speech, kami menyorot persoalan Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Salah satu substansi penting dari tindak pidana transnasional yang terorganisasi dan diantara bentuk kejahatan yang mengancam kehidupan sosial, ekonomi, politik, keamanan, dan perdamaian dunia. Perdagangan anak dan perempuan merupakan bentuk kejahatan terorganisir terbesar nomor tiga di dunia setelah kejahatan perdagangan obat bius dan perdagangan senjata. Selain itu, juga menyorot seputar perlindungan hak-hak seluruh pekerja migran dan keluarganya. Secara tegas kami menyinggung bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi korban dari perbudakan modern hari ini. Laki-laki, perempuan dan anak-anak dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT dan Banten paling banyak menjadi korban perbudakan modern dengan negara tujuan Malaysia, Taiwan Province of China, Hong Kong, Chile, New Zealand, the Philippines, Egypt, USA dan the Middle East.

Kami Bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, sehingga hak asasi manusia, termasuk hak-hak seluruh pekerja migran dan anggota keluarganya harus dilindungi, dihormati, dipertahankan dan tidak boleh diabaikan, dikurangi atau dirampas oleh siapa pun. Oleh karena itu, mari bekerja sama untuk meningkatkan keseriusan dalam menyelesaikan persoalan Human Trafficking, khususnya dalam upaya pencegahan.  Semoga di masa depan, perempuan Indonesia tidak lagi perlu menjadi pekerja migran khususnya di sektor informal, karena lapangan kerja yang layak sudah tersedia di dalam negeri bahkan mungkin tidak perlu keluar rumah untuk bekerja.

Halal Industry
Sebelum sesi perkenalan tentang apa itu INHART IIUM, seorang professor menyampaikan seminar seputar Halal Industry di bidang makanan, bukan makanan dan jasa. Industri ini sangat penting untuk memastikan kehalalan pada produk dan prosesnya yang dimulai dari ladang sampai meja makan. Saudi Arabia bersama negara-negara Timur Tengah lainnya bekerja sama untuk mendukung Malaysia menjadi salah satu pemimpin dunia di bidang Halal Industry. Investasi mengarah pada penggunaan teknlogi Halal Industry, seperti mobile apps, artificial intelligence, dan robotics untuk menjangkau pasar Internasional. Saat ini, ada 90 perusahaan Malaysia yang telah investasi di Saudi Arabia, maka kelanjutan kerja sama ini bukanlah hal yang mengherankan.

Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam mengembangkan ekonomi syariah sebagai arus utama perekonomian  dan menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dunia di bidang Halal Industry. Permintaan produk berupa barang dan/ atau jasa halal tidak hanya datang dari kalangan Muslim, tetapi juga non-Muslim. Tahun 2017, negara yang memiliki industri makanan halal terbanyak adalah United Arab Emirates (UAE). Brazil yang merupakan negara dengan penduduk mayoritas non-Muslim menempati peringkat ke 2 dalam industri makanan halal. Brazil mampu mengekspor daging halal terbanyak di seluruh negara di dunia. Pendapatan yang diperoleh dari hasil ekspor ini mencapai $ 5,19 Miliar (Dubai Islamic Economy Development Centre and Thomson Reuters,  2017). Di bidang keuangan, peringkat pertama diduduki oleh Malaysia (State of The Global Islamic Economy, 2018).

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *