Cara Mahasiswa Mengabdi di Era Revolusi Industri 4.0

Bidang usaha industri daur ulang merupakan salah satu perusahaan yang kami kunjungi dari 42 titik kunjungan di Sulawesi Selatan, pada saat liburan musim dingin awal tahun 2019. Cerita yang menarik dari kunjungan tersebut adalah direktur perusahaan baru saja membatalkan proposal pinjaman dari sebuah bank konvensional untuk pengembangan pabrik baru. Alasan sang direktur yang masih seumuran dengan saya itu adalah tidak mau lagi terlibat dalam riba. Beliau banyak mendengarkan kajian dari youtube dan belajar secara langsung dari seorang ustadz saat umroh serta selalu berdoa untuk diberikan ganti yang lebih baik.

Cerita sang direktur tersebut mengingatkan saya ketika membuat keputusan yang sama, yaitu membatalkan pinjaman dari bank konvensional yang sama-sama sudah survey dan acc untuk pembangunan sebuah pabrik produksi. Bedanya, saya putuskan untuk sementara berhenti berbisnis atas dukungan orang tua tentunya, lalu menggunakan modal yang masih tersisa untuk fokus menuntut ilmu. Saat menikmati ketenangan batin pada sebuah pondok tahfidz di Bogor, saya mendapat kabar kelulusan untuk melanjutkan pendidikan di Riyadh ibu kota Saudi Arabia. Adapun sang direktur memilih untuk tetap berjuang melanjutkan bisnis dan banyak belajar tentang kunci-kunci rezeki. Setelah membangun perusahaan selama kurang 5 tahun, ia berhasil mempekerjakan 40 orang karyawan.

Sebagai seorang mahasiswa yang pernah sekolah bisnis di Indonesia dan punya pengalaman mengelola bisnis sendiri dengan 300 distributor tetap, sekarang sekolah hukum di negara yang dalam konstitusinya tertulis bahwa seluruh peraturan yang dibuat oleh negara tidak boleh bertentangan dengan aturan Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka kita sebagai pelajar Indonesia di luar negeri punya tanggung jawab yang harus ditunaikan. Di luar negeri, tanggung jawab utama kita  adalah fokus menuntut ilmu sesuai bidang keahlian yang digeluti dan membangun relasi. Untuk negeri tercinta Indonesia, kita punya tanggung jawab sosial yang harus ditunaikan. Maka sebelum kembali terjun ke dunia bisnis, saya memutuskan untuk memulai program pegabdian masyarakat dengan ikut berkontribusi membangun Kawasan Timur Indonesia khususnya di daerah sendiri Sulawesi Selatan.

Mendapatkan amanah untuk belajar di kampus di mana banyak orang yang menginginkannya, seharusnya menjadikan kita sadar untuk mempersiapkan diri agar memiliki kualitas bukan sekedar angka-angka di atas kertas untuk siap menjalankan amanah atau tanggung jawab di mana kebanyakan orang belum siap atau belum memiliki kapasitas menjalankan amanah di bidang tersebut. Tentu saja setiap orang punya kesempatan dan keahliannya masing-masing, sehingga kolaborasi menjadi sangat penting. Inilah era revolusi industri 4.0, di mana anak milenial bisa menjalankan program pengabdian masyarakat secara profesional, meskipun fisiknya nampak berdiam diri di dalam kamar bahkan masih sedang kuliah di luar negeri. Bukan sekedar berdiam diri main game siang malam atau sekedar menghabiskan serial film, kecuali mungkin jika ada game atau tontonan yang produktif dan bisa memberikan manfaat.

Hari jum’at pekan lalu, kami kembali dipertemukan oleh Allah di kota suci Makkah Al Mukarramah saat menjalankan ibadah umroh. Melalui kolaborasi pengalaman, ilmu dan relasi masing-masing; kita sepakat untuk bekerja sama mengembangkan industri daur ulang yang beliau miliki agar bisa memberi dampak positif yang lebih besar secara khusus bagi masyarakat di Kawasan Timur Indonesia. Semoga bisa menyerap lapangan kerja yang lebih banyak lagi, menjalankan tanggung jawab sosial yang lebih besar lagi dalam pemenuhan hak atas lingkungan yang berkelanjutan dan khususnya dapat memberi solusi kongkrit untuk menjalankan dan mengembangkan praktik bisnis yang tidak bertentangan dengan aturan yang telah dibuat oleh Allah dan Rasul-Nya.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *