111 Hujan di Kota Riyadh

Entah sudah berapa hujan yang turun di kota ini, rindu masih menderu. Entah berapa air mata lagi yang harus tumpah dari para wanita Indonesia di negeri ini, TKI masih dikirim. Entah berapa darah lagi yang terus mengalir, perang masih berkecamuk. Malam ini mungkin bukanlah hujan ke 111 yang telah kulewati di kota Riyadh, tapi tulisan ini kubuat untuk dinda yang ingin menikmati curahan 111 hujan.

Biasanya hujan selalu berhasil menggodaku untuk menulis setelah jeda beberapa waktu, tapi entah mengapa hujan pergantian musim kali ini terasa biasa saja. Mungkin seperti maksiat yang terus berulang, menjadikan hati makin gelap dan keras. Pekan ini aku tidak lulus ujian mid pertama mata kuliah Hukum Pidana (Antara Syariat Islam dan Hukum Positif), bersyukur dapat kesempatan mengulang bersama teman kelas yang lain. Padahal diantara alasan mengapa aku memilih masuk Law School di Saudi, karena suatu hari aku ingin membela para buruh migran yang dizalimi di luar negeri. Mungkin ini yang membuatku ingin menulis dan menyampaikan pada dinda bahwa aku sangat bodoh, meski kerjaanku saat ini sepertinya hanya belajar dan belajar. Selain bodoh karena masih memilih bersama sepi, juga karena masih banyak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk belajar. Semoga aku dan dinda bisa sama-sama belajar lebih giat lagi untuk menghilangkan kebodohan dari diri sendiri dan orang lain seperti nasihat Imam Ahmad ketika ditanya “Bagaimanakah benarnya niat itu wahai Abu Abdillah?”

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan hujan yang penuh dengan keberkahan dan Rahmat Allah senantiasa tercurah untuk kita semua. Berharap hari esok bisa lulus ujian dengan hasil yang lebih baik. Berharap bisa melewati setiap ujian di dunia ini, dalam perjalanan menuju Allah. Ujian dunia yang fana ini tak akan diberi kesempatan mengulang, hidup hanya sekali. Melalui hujan, kita bisa mengenal Allah Pemelihara semesta alam. Karena semua yang ada selain Allah disebut alam, dan kita adalah bagian dari semesta alam ini. Tidak ada sesembahan yang berhaq disembah kecuali Allah.

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang  menjadikan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan  air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Qs. Al Baqarah:21-22)

Kalimat Laa Ilaaha Illallah wajib untuk dipelajari oleh setiap muslim, bukan sekedar dikibarkan, menjadi pajangan dinding, apalagi untuk dibakar. Kalimat Laa Ilaaha Illallah wajib untuk diamalkan bukan sekedar diteriakkan, dijadikan ritual, apalagi dijadikan bahan debat kusir. Lebih parah lagi jika ada yang menjadikan kalimat Laa Ilaaha Illallah atau agama ini menjadi bahan lucu-lucuan. Belajar kalimat Laa Ilaaha Illallah itu butuh kesabaran, akan ada begitu banyak ujian untuk mengamalkannya dan butuh perjuangan berat untuk mendakwahkannya.

“Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling nasehat-menasehati untuk (menegakkan) kebenaran, serta nasehat-menasehati untuk (menetapi) kesabaran.” (Qs. Al ‘Ashr:1-3)

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *