Antara Ujian Rindu dan Ujian untuk Negeri

Ujian bagi kami sebagai pelajar pada semester musim panas tahun ini adalah lulus mata kuliah Hukum Perikatan (Tinjauan dalam fiqh Islami dan hukum-hukum positif di sebagian negara-negara Arab). Tentu saja selain ujian hidup sebagai seorang jomblo. Jauh dari beratnya ujian yang menimpa tanah air tercinta, meskipun di sini, di negeri pelayan dua kota suci sudah beberapa kali mendapatkan serangan rudal. Bencana alam tak ada satupun kekuatan manusia yang bisa menghalanginya, tapi rudal bisa dicegah dengan teknologi. Hari-hari berjalan ke kampus, suhu berada di kisaran 45 derajat disertai dengan kabut debu, tapi ketika sudah masuk kelas terasa sejuk bahkan kedinginan dan tak ada lagi debu. Masih jauh dari beratnya ujian yang menimpa saudara-saudara kita yang belahan bumi tempatnya berpijak diguncang gempa. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa memberi kekuatan dan ketabahan.

Diantara ujian terberat di negeri rantau adalah ujian rindu pada kampung halaman. Pertemuan dan melewatkan malam-malam bersama orang tua tercinta di kota suci rasanya belum cukup menghilangkan dahaga rindu. Aku yang menghabiskan masa-masa SD sampai SMP di desa sudah terbiasa hidup bersama masyarakat. Kami sudah terbiasa saling menunggu dan saling memanggil dengan tetangga yang juga teman sekolah untuk berangkat dan pulang berjalan bersama. Setelah Ashar olahraga bersama, entah itu berenang di sungai yang jernih, bermain bola atau yang tidak terlupakan berburu di hutan. Setelah maghrib, kembali belajar mengaji bersama di masjid. Menjadi pantangan yang sangat keras untuk tidur setelah sholat shubuh. Di desa kami belajar menghargai kerja keras para petani, kami diajari untuk mendapatkan uang jajan dari hasil keringat sendiri.

Kini hanya ada rindu bersama sepi. Hampir tiap hari, jika tidak mempersiapkan bahan untuk esok harinya tidak akan memahmi istilah-istilah hukum positif dalam bahasa arab yang dijelaskan oleh dosen. Jika tidak mengulang setiap pelajaran dan ditumpuk menjelang ujian, dengan tebalnya materi bahan ajar akan kewalahan saat ujian. Ditambah setiap mata kuliah ada tugas menulis makalah dengan tulis tangan, belum lagi riset untuk follow up proyek-proyek yang sudah dikerjakan di Indonesia juga harus terus berlanjut. Inilah fase di mana aku harus belajar hidup bersama sepi dan rindu. Setiap kita bisa membuat rencana dan berjuang untuk menentukan pilihan-pilihan hidup. Setiap pilihan sudah pasti akan ada konskuensi dan komentar dari orang lain. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Implementasi memang terkadang tidak harus selalu seperti apa yang direncanakan. Ada hal-hal yang harus diberi solusi berdasarkan situasi dan kondisi kekinian. Tapi, untuk skala negara pastinya perencanaan berdasarkan hasil riset yang benar-benar sudah matang dan pokok-pokok permasalahan negeri ini pun sudah terus berulang. Aku termasuk yang mendukung agenda negara untuk -membangun Indonesia dari desa- sebagai agenda prioritas pemerintah periode ini seperti yang tertuang dalam Nawa Cita poin ke tiga. Melalui tulisan ini, penulis hendak minta tolong kepada dinda yang dari desa dan masih tinggal di desa untuk memberi saya penjelasan objektif seputar agenda yang telah dilakukan negara untuk membangun desa.

Beberapa tulisan sebelumnya, saya sudah menyampaikan tentang alasan mengapa mendukung gerakan #2019GantiPresiden. Tentu saja saya tidak bisa menafikan apa yang sudah dilakukan negara, maka penting bagi kami untuk juga mendengarkan alasan mengapa harus mendukung lanjutkan dua periode. Dengan begini, budaya diskusi yang ilmiah akan terbangun di negeri kita. Bukan malah saling mencurigai, jika di luar komunitasnya dituduh sebagai anti panca sila dan anti kebhinekaan padahal dalam darah kita mungkin sama-sama mengalir darah yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Bahkan mungkin dari darah yang menyerahkan wilayah kekuasaanya untuk bergabung menjadi NKRI secara sukarela. Mari saling bertarung visi, misi dan program.  Ujian bencana alam untuk negeri tidak bisa dicegah terjadinya, tapi ujian kemiskinan dan kebodohan bisa dicegah agar tidak semakin memperparah ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Siapapun yang terpilih, mari kita bekerja sama membangun negeri.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *