Pendidikan Karakter dari Ulama

Terlepas dari pro-kontra penggunaan istilah -Revolusi Mental- saya termasuk yang mendukung program penguatan karakter bangsa yang menjadi salah satu fokus utama negara sebagaimana yang tertuang dalam Nawa Cita pemerintah poin ke delapan. Sayangnya seiring berjalannya waktu, -Revolusi Mental- tertinggal jauh. Entah bagaimana kabarnya kini, apa mungkin ia bisa ditemukan di jalan-jalan tol? Atau mungkin sudah tertinggal di antara reruntuhan bangunan.

Melihat percakapan sesama anak bangsa di jagat maya, mungkin masih banyak di antara kita yang bertanya; “mana budaya sopan santun yang dibanggakan di negeri ini?” Apakah pantas kita memanggil kawan-kawan yang berbeda pandangan politik dengan panggilan binatang atau panggilan buruk? Mana revolusi mental ketika praktik kekerasan terjadi secara berulang-ulang di institusi-institusi pendidikan? Dinda, tolong bantu negara mengais-ngaisnya yang mungkin sedang tertimpa di antara reruntuhan.

Ulama yang diharapkan untuk ikut membantu negara mengejar ketertinggalan pendidikan karakter dari infrasturuktur, sayangnya negara seolah hanya butuh 200 muballig. Tapi jangan khawatir, meski ulama tidak di rekomendasi kemenag, dakwah dan perjuangan tidak akan pernah berhenti. Ulama itu menghabiskan waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, mereka takut pada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya. Dengan bercucuran air mata, ulama menengadahkan tangan mendoakan kebaikan untuk negeri, mendoakan keselamatan untuk anak bangsa dan kaum muslimin dunia dan akhirat. Siangnya ulama menghabiskan hari-harinya memberikan pendidikan karakter dengan ilmu dan keteladanan.

Indonesia dengan penduduk muslim terbesar di dunia sudah seharusnya bisa mencetak generasi ulama sekaligus umara’. Sudah terlalu banyak problematika umat yang terjadi di negeri ini, umat butuh solusi dan pencerahan langsung dari seorang pemimpin yang sekaligus ulama. Namun, jika hal tersebut belum bisa terwujud maka sangat diharapkan pemerintahan periode berikutnya memberi perhatian yang besar pada pengkaderan generasi ulama. Pendidikan karakter dari ulama sangat bisa mengawal generasi muda mengahadapi era globalisasi. Pendidikan karakter dari ulama bukan hanya sekedar mempersiapkan generasi emas 2045, tapi mempersiapkan generasi selamat dunia akhirat. Belajar pada ulama bukan berarti tidak bisa mengembangkan bakat dan potensi individual, belajar pada ulama buka berarti tidak bisa memperkuat dan memperkaya daya nalar intelektual, belajar pada ulama bukan berarti tidak bisa menjadi mandiri dan wanita tidak bisa berkarir. Dinda, belajarlah pada ulama maka engkau akan tau siapa dirimu sesungguhnya dan mau ke mana.

Mari mendo’akan para ulama negeri kita, siapapun yang mejadi pilihan politiknya, semoga tidak terpedaya dengan harta dan kedudukan. Semoga kita semua senantiasa berada dalam lindungan dan petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla kepada jalan yang lurus. Allah Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam dada para ulama. Kita tidak bisa mengetahui apa yang tersimpan dalam hati, yang bisa kita ketahui hanyalah perbuatan zahir dan arah keberpihakan.  “Dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (Qs. Al ‘Ankabuut: 43)

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *