Pendidikan Nasionalisme dari Ulama

Diantara perdebatan yang cukup alot dalam salah satu forum musyawarah bersama Tim Adhoc PPI Dunia yang diikuti lebih dari 20 negara, selain memasukkan kata politik dalam ruang lingkup dan fungsi kegiatan adalah seputar pendidikan nasionalisme. Sungguh mengherankan jika ada pelajar Indonesia di luar negeri yang tidak bertambah rasa nasionalismennya. Kami sebagai pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di salah satu negara dari negara-negara Arab, bagaimana mungkin tidak bertambah rasa bangga sebagai Warga Negara Indonesia ketika merasakan betapa tingginya adab dan budaya bermasyarakat negara kita. Bagaimana mungkin semangat nasionalisme kita tidak tumbuh ketika diperhadapkan pada perlakuan ketidak setaraan dari negara lain pada para buruh migran Indonesia. Rasa nasionalisme itu lahir dan tumbuh semakin kuat dari hari ke hari hinga tahun demi tahun kami hidup di negeri rantau. Mencintai tanah air itu fitrah, Indonesia seharusnya mengalir deras dalam darah setiap anak bangsa di manapun berada tanpa harus mempertentangkannya dengan agama seseorang.

Para ulama yang pada umumnya alumni dari sekolah-sekolah dari negeri-negeri Arab tidak perlu diragukan nasionalismenya. Maka jangan heran jika sebagian ulama mengambil peran dalam dunia politik. Di Saudi Arabia, ulama masuk dalam bab kekuasaan legislatif. Inilah pendidikan nasionalisme dari para ulama. Generasi muda harus tau bahwa sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia hingga hari ini tidak bisa lepas dari peran ulama. Ijtima’ ulama adalah salah satu contoh pendidikan praktis nasionalisme dan wawasan kebangsaan. Kita muslim dan kita Indonesia, maka sudah sewajarnya kita berpartisipasi aktif untuk ikut terlibat dalam menentukan calon pemimpin terbaik untuk negeri tercinta. Tokoh ulama itu sudah pasti nasionalis, tapi tokoh nasionalis belum tentu ulama.

Rekomendasi dari ulama yang berkumpul dari berbagai unsur sudah pasti jauh lebih kuat dari rekomendasi ulama secara individual. Pendidikan nasionalisme dari ulama akan bertambah indah dialektikanya jika ulama yang mendukung pihak sebelah juga berkumpul dan membahas mengapa harus memberikan dukungannya. Semoga ulama bisa memberi pelajaran kepada kami para anak muda cara berbeda pendapat yang elegan. Tidak masalah jika rekomendasi itu tidak diterima. Itulah realitas politik negeri kita yang harus dilewati. Jika negeri ini belum bisa dipimpin oleh ulama, maka semoga para pemimpin mau mendengarkan nasihat ulama bukan dikriminalisasi atau dicurigai mau berbuat makar. Para ulama itu tidak hanya bisa membaca do’a pada setiap acara penutupan. Ulama juga bicara tentang ekonomi ummat, tentang pengelolaan SDA, tentang penguatan kualitas SDM dan memberi solusi atas berbagai macam problematika ummat yang terjadi di negeri ini.

Allah Azza wa Jalla meminta orang-orang berilmu bersaksi terhadap sesuatu yang sangat agung untuk diberi kesaksian yaitu keesaan Allah yang mana -Ketuhanan Yang Maha Esa- adalah sila pertama dari Pancasila. Allah menggabungkan kesaksian orang-orang berilmu dengan kesaksian-Nya dan kesaksian malaikat-malaikat-Nya. Para ulama mendapat rekomendasi langsung dari Allah tentang keadilan mereka. “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Ali ‘Imran: 18)

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *