Wali Kelasku, Kristen

Tulisan ini didedikasikan untuk dinda dan Ibu Maria, wali kelasku waktu duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri kelas 6.

Apa dinda (adik-adik kelasku yang pernah diajar oleh Ibu Maria) tau mengapa kehidupan umat beragama beberapa tahun terakhir ini menjadi begitu sensitif? Padahal sudah sangat lama pondasi toleransi antar umat beragama  terbangun, kita hidup saling pengertian dan saling menghormati. Siapa yang telah mencabik-cabik kebhinekaan yang sudah lama terbangun di negeri ini? Setelah kerukunan umat beragama berantakan dan negara seolah tidak mampu merapikannya kembali, lalu keluarlah tuduhan intoleran dan anti pancasila bagi kelompok lain yang umumnya berada di luar pemerintahan.

Ketika orang tua tau bahwa yang menjadi wali kelasku beragama Kristen, mereka langsung memberi perhatian dan nasihat agar menjaga sikap dan perkataan kepada beliau. Ibu selalu mengulang pesan  agar jangan sampai menyinggung atau menyakiti hati wali kelas kami. Aku yakin, orang tua dinda juga selalu mengingatkan hal yang sama. Lalu mengapa tahun-tahun terakhir ini, selalu diteriakkan ketidakadilan pada kelompok minoritas? Siapa yang pernah mewacanakan pengosongan kolom agama dalam KTP? Siapa yang mengusulkan penghapusan UU penodaan agama? Ketidakmampuan mengatasai kekacauan kerukunan umat beragama, kemudian menyalahkan kelompok lain.

Bukan sekedar menyalahkan, bahkan membubarkan. Perlu ditegaskan kepada dinda bahwa sejak aku masih kuliah di Indonesia, sudah menentang dengan keras konsep khilafah versi HT. Salah seorang guru kami bahkan sudah memprediksi bahwa HT akan “dipertanyakan” eksistensinya oleh negara. Mereka memilih golput, lalu menuntut pemerintahan yang lebih baik. Sekeras-kerasnya guru kami mengkritik pemikiran HT, tapi tidak pernah terucap bahwa negara seharusnya membubarkan HT. Pemerintahan saat ini gagal menempatkan persoalan kenegaraan dan keagamaan dengan baik. Aku yakin dinda setuju bahwa hari-hari ini kader-kader HT malah menjadi semakin militan setelah dibubarkan. Apa susahnya negara memfasilitasi dialog dengan mereka sebelum melakukan tindakan. Siapa tau setelah duduk berdialog dengan cara yang baik, jika belum mau ikut masuk dalam pemerintahan paling minimal mereka ikut berpartisipasi aktif dalam pemilu.

Kebhinekaan adalah potensi dan salah satu unsur kekuatan bangsa, negara wajib menjaga kebhinekaan. Memberikan perlindungan secara adil kepada kelompok mayoritas dan minoritas. Negara harus bisa menjaga dan memberikan rasa aman kepada warganya untuk menjalankan ibadah. Terorisme harus dibumi hanguskan dari negeri yang cinta damai ini. Pemerintah wajib melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Dunia seharusnya belajar pada kita bagaimana cara hidup damai dalam keberagaman. Ibu Maria bukan hanya wali kelasku, tapi beliau juga adalah tetangga dan kami sudah merasakan indahnya hidup damai berdampingan. Semoga pemerintahan periode berikutnya bisa mengembalikan suasana damai yang sudah lama terbangun, setelah beberapa tahun terakhir negara gagal mengendalikannya.

Hari-hari ini banyak dari kalangan ulama terjun langsung dalam dunia politik dan mempertegas pilihan politiknya, ini adalah salah bukti bahwa negara telah gagal memperlakukan para ulama dengan baik sehingga mereka merasa terpanggil untuk terlibat aktif dalam menentukan siapa calon pemimpin terbaik periode berikutnya. Wali kelasku waktu SD Kristen, dan beliau tau jika bertanya tentang urusan agama maka tanyakanlah pada guru agama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Kepemimpinan yang mengurus urusan manusia termasuk kewajiban agama yang paling besar.” Jika dinda hendak memilih pemimpin, bertanyalah pada guru agama atau dengarkanlah nasihat para ulama.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *