Rekomendasi Capres dan Cawapres; Versi Ulama

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (Qs. Al Mujaadilah:11)

Usulan pertama dalam tulisan sebelumnya tentang cawapres versi jomblo sengaja dikosongkan. Jomblo punya kebebasan dan punya pilihan sendiri, tapi jomblo yang berkualias senantiasa menunggu arahan para ulama. Bahkan jika capres dan cawapres pilihan pribadinya berbeda maka ia akan taat mengikuti keputusan para ulama yang lurus dan atas pertimbangan maslahat keummatan.

Ibnu Abbas Radiallahu Anhuma ketika menjelaskan ayat di atas berkata, “Kedudukan ulama berada di atas orang-orang yang beriman dengan selisih 700 derajat, jarak masing-masing derajat dengan yang lain sejauh 500 tahun perjalanan.” Jomblo yang berilmu yakin bahwa ulama memiliki kedudukan yang sangat tinggi sehingga suara mereka tidak bisa disamakan dengan suara kebanyakan manusia. Itulah mengapa para ulama menjadi penting untuk didengarkan dan ditaati arahannya.

Pada periode kepemimpinan Umar bin Khattab Radiallahu ‘Anhu pernah diangkat seorang pemimpin dari salah seorang mantan budak di Mekkah padahal ada begitu banyak kandidat yang memiliki status sosial yang lebih tinggi, tapi ia dipilih karena persoalan kapasitas keilmuannya. Realitas politik hari ini, yang menjadi pertimbangan utama untuk memilih seorang pemimpin dilihat dari tingkat popularitas, elektabilitas dan kemampuan logistiknya. Banyak anak muda hari ini begitu bangga ketika punya relasi dengan pejabat. Banyak anak muda begitu kagum dan sangat hormat ketika konglomerat yang berbicara. Realitas negeri kita hari ini, orang-orang kaya dan orang-orang yang punya kekuasaan akan mendapatkan penghormatan lebih dan khusus. Mereka akan diperlakukan secara istimewa, bahkan banyak yang menjilat dan merendahkan diri sendiri. Semoga mereka juga bangga ketika bergaul dengan para petani, nelayan dan masyarakat desa. Semoga mereka juga mendengarkan dan menghormati orang-orang miskin ketika berbicara. Ingatlah bahwa Allah akan meninggikan derajat sebagian manusia dengan Al-Qur’an dan merendahkan sebagian yang lain karenanya. Ingatlah bahwa hidup ini singkat.

Tidak ada yang salah dengan orang-orang yang memiliki kekayaan dan memegang kekuasaan, begitupun dengan orang-orang yang mendekat pada pusat kekuasaan. Tapi, menjadi sangat rendah jika ada anak muda yang menggadaikan idealisme demi uang dan jabatan. Sebagian orang tua mungkin akan menertawakan para pemuda yang masih memegang teguh idealisme dengan kata realistis. Mari mendahulukan pertarungan visi, misi, dan rencana aksi, tidak perlu menghakimi orang-orang yang memiliki pandangan politik praktis berbeda dengan kita. Mari tetap menghargai para tokoh yang mendekat pada pusat kekuasaan yang sudah terbukti ingkar janji, tapi kita anak-anak muda milenial yang menjadikan ulama sebagai panutan akan mendengungkan untuk merebut kekuasaan dengan cara yang sah. Karena kita tidak anti pada kekuasaan, tapi anti pada kezaliman.

Siapa ulama yang layak dijadikan sebagai panutan? Mereka adalah yang senatiasa menghiasi diri dengan rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla secara lahir dan batin dengan senantiasa menjaga syari’at Islam dan menampakkan serta menyebarkan Sunnah.  Mereka adalah yang senantiasa mengamalkan dan mendakwahkan ajaran Islam agar manusia berjalan menuju Allah dengan ilmu dan akhlak. Mereka para ulama yang mempertimbangkan kemaslahatan ummat. Bukan hanya untuk maslahat jangka pendek 2019-2024, tapi untuk kepentingan dunia dan akhirat. “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Faathir: 28). Oleh karena itu, rekomendasi capres dan cawapres; pilihan ulama akan menjadi pilihan ummat Insya Allah.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *