Arti Syariat Islam; Selamatkan Putri Proklamator

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap-tiap umat di antara kalian,
Kami berikan syari’at (aturan) dan jalan yang terang.”
(Qs. Al Maa-idah: 48)


Syariat itu berarti memulai sesuatu. Seperti; memulai perjalanan, memulai pendakian, memulai tulisan atau memulai pembicaraan. Seperti yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang menyebutkan kata asy-syir’ah atau syari’at. Jika putri Presiden pertama Republik Indonesia berteriak tidak tahu syariat Islam, apa ini artinya masih banyak penduduk Indonesia yang seperti dia? Hanya saja mereka diam dalam kebodohannya? Kawan-kawan aktivis dakwah ditantang secara terbuka oleh Ibu Sukmawati Soekarnoputri untuk lebih memperkenalkan syariat Islam kepada masyarakat Indonesia. Di tengah pusaran pengaruh sosialis dan kapitalis global, putri proklamator semakin mengokohkan para ustadz untuk menegakkan syariat Islam di negeri kita tercinta Indonesia. Sayangnya, beliau menantang dengan cara melanggar hukum yang berlaku di negara ini. Karena hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, mungkin penjara bisa menjadi tempat yang tenang untuk memulai belajar Syariat Islam sambil menunggu hari pertemuan dengan Allah ‘Azza wa Jalla.

Syariat itu berarti nampak, jelas dan terang. Dalam kamus bahasa arab dikatakan syuri’a al-ihaabu, berarti kulit hewan yang dikuliti hingga nampak jelas terlihat. Di zaman yang serba jelas dan terang ini, sepertinya sulit bagi kita menemukan alasan yang tepat bahwa masih ada seorang muslim yang tidak tahu syariat Islam. Mungkin Ibu Sukma ingin bilang “aku benci syariat Islam”, tapi ia berusaha memperhalus diksinya. Artinya, dalam hati kecil beliau masih tersimpan sedikit rasa takut untuk membangkang secara frontal terhadap syariat Islam, walaupun ternyata dengan diksi seperti itu pun sudah sangat frontal bagi orang yang tahu syariat Islam. Mari selamatkan putri proklamator kita dengan membantu beliau merasakan bagaimana nikmatnya berkhalwat dengan Rabb Yang Maha Menguasai. Kasus ini sudah sangat nampak, jelas dan terang. Pihak kepolisian bisa segera bertindak secara adil dan transparan dan Ibu Sukma pun harusnya menunjukkan sikap kooperatif agar bisa mendidik bangsa ini bahwa penegakan hukum yang berkeadilan bisa tercapai tanpa harus menunggu gerakan massa.

Di negeri tempat tumbuhnya pohon soekarno menyebut syari’ah sebagai sumber-sumber air seperti kolam besar, telaga dan danau yang biasa digunakan manusia atau hewan untuk mengambil air minum. Bangsa Arab sebagai sahabat setia bangsa Indonesia (baik suka dan duka) tidak menamakan tempat-tempat berkumpulnya air tersebut syari’at sampai air tersebut banyak, terus mengalir tiada putusnya, jelas dan bening, dan airnya diambil tanpa perlu menggunakan tali. Sebagaimana sumber air, seharusnya para generasi penerus Bapak Proklamator Indonesia mampu menyejukkan dengan perbuatan dan kata-kata. Ketika Bung Karno menunaikan ibadah haji, beliau membawa dan mengirimkan bibit pohon mindi (yang di Mekkah dikenal sebagai pohon Soekarno) disertai ahli tanaman dari Indonesia untuk ditanam di lahan seluas ribuan hektar di Arafah Saudi Arabia menggunakan tanah subur dari Indonesia dan Thailand. Lalu mengapa kini putri Bung Karno mengirimkan pesan kebencian? Mengapa harus membandingkan budaya sari konde dan cadar yang merupakan bagian dari syariat Islam? Mengapa harus membandingkan suara kidung ibu Indonesia dan alunan adzan?  Ataukah ada sesuatu yang hendak ditutupi?

Syariat itu berarti menempuh jalan yang jelas dan terang. Dan jalan yang jelas dan terang itu adalah syariat Islam. Lalu bagaimana memahami arti dari Istilah syariat Islam? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Istilah syari’at, syara’, dan syir’ah mencakup segala hal yang Allah syariatkan, baik berupa keyakinan-keyakinan maupun amal-amal perbuatan.” Imam Ibnu Atsir berkata: “Syara’ dan syariat adalah agama yang Allah syariatkan atas hamba-hamba-Nya, yaitu agama yang Allah tetapkan bagi mereka dan Allah wajibkan atas diri mereka.” Syariat mencakup hukum-hukum Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam bidang akidah, ibadah, akhlak, dan mua’amalah. Syariat mencakup semua bidang kehidupan manusia, baik urusan dunia maupun urusan akhirat.

 

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *