Ustadz Bicara Ekonomi; Catatan Simposium PPI Timtengka di Islamabad

Mahasiswa yang kuliah di Timur Tengah dan Afrika umumnya dipanggil ustadz setelah balik ke Indonesia. Jadi panggilan ustadz di kalangan mahasiswa Timtengka itu sudah lumrah, walaupun secara pribadi kita merasa belum pantas. Pada simposium internasional PPI Timtengka di Islamabad, mengangkat tema “membumikan nilai-nilai Islam dalam praktik bisnis modern di Indonesia”. Tema inilah yang menarik penulis untuk ikut berpartisipasi pada simposium tahun ini. Jujur saja, jika panitia tidak mengangkat tema ekonomi Islam maka anggaran yang kami siapkan akan dialokasikan ke Madrid untuk menghadiri undangan presentasi paper kami yang mengangkat tema peran kearifal lokal Sulawesi Selatan dalam membangun peradaban maritim di Asia Tenggara.

Ketika ustadz bicara tentang finance dan pengelolaan Sumber Daya Alam dalam perspektif Islam akan sangat menarik karena bisa menempatkan dengan baik antara nilai-nilai yang sudah menjadi standar baku dalam Islam dan praktik bisnis modern. Standar baku dalam ekonomi islam itu bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, bisa diukur akurasinya dengan menggunakan al qawa’id as syar’iyyah baik itu dari segi Ushuliyyah, Fiqhiyyah, ‘Aqdiyyah atau Akhlaqiyyah. Adapun sistem ekonomi dalam islam yang bisa fleksibel seiring dengan perubahan waktu, tempat, situasi dan kondisi masyarakat maka bisa merujuk kepada para ahli di bidangya khususnya yang ahli di negara tersebut. Tentu saja seorang ahli akan mempertimbangkan tercapainya maslahat umum dan tidak akan keluar dari standar baku yang telah ditetapkan dalam syariat.

Diantara poin penting yang kami catat dari pemaparan Dr. Syafi’i Antonio sebagai keynote speaker adalah tentang urgensi synergi with the spirit of jamaah, finding the meeting point and common interest, collaborative network and burning the ghirah. Menurut penulis, poin-poin ini sangat relevan dengan realitas Indonesia saat ini untuk memperkuat peran ummat Islam di sektor ekonomi sebagai penduduk mayoritas namun minoritas pada penguasaan titik vital pembangunan ekonomi negara. Seharusnya para ustadz mampu mengendalikan ekonomi negara dengan arah yang benar. Para ustadz harus mampu memotivasi ummat agar bisa mewujudkan kemandirian di bidang ekonomi.

Kehidupan ekonomi penduduk Madinah dari suku Aus dan Khazraj sebagai warga pribumi pernah di bawah kendali orang-orang Yahudi. Hal tersebut disebabkan karena Yahudi menguasai pasar. Bahkan pusat-pusat pertanian dikuasai, sehingga Yahudi memiliki kekuatan untuk mendominasi industri dari hulu ke hilir. Maka para ustadz harus bicara menyampaikan bagaimana strategi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam agar ummat Islam bisa mengendalikan ekonomi. Ummat Islam harus bisa mandiri dan profesional dalam mengelola pusat-pusat pertanian dan perkebunan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabdaSiapa saja memakmurkan tanah yang tidak dimiliki siapapun, maka dia berhak atas tanah itu” (HR. Bukhari) Kemudian ummat Islam harus mampu menciptakan pasar baru untuk transaksi yang sesuai dengan sistem ekonomi dalam Islam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak hanya membangun masjid tapi juga membangun pasar di kota Madinah, sehingga bisa untuk tidak bergantung pada pasar Yahudi di Bani Qainuqa’.

Para ustadz harus memiliki kekuatan untuk bertarung dengan mereka kaum kapitalis dan sosialis. Para ustadz harus mampu menawarkan kebijakan ekonomi yang berkeadilan bagi seluruh rakyat. Bukan paket kebijakan ekonomi yang berwajah kerakyatan tapi isinya liberal kapitalistik. Para ustadz harus bisa tampil menawarkan kebijakan ekonomi yang tidak menjadikan utang negara semakin membengkak. Para ustadz harus  amanah, jika menjanjikan pertumbuhan ekonomi 7 % saat kampanye harus bisa dicapai bukan hanya 5 %. Para ustadz harus terus belajar ikhlas, bukan bekerja untuk pencitraan.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *