Politik, Hukum & Keamanan

Aku Ingin Jadi Ustadz

Gerakan “orang gila” yang menyerang para Ustadz tentu tidak akan membuat gentar para santri di seluruh Indonesia untuk mewujudkan cita-citanya menjadi seorang Ustadz. Aku adalah salah satu dari jutaan anak Indonesia yang sudah dibisikkan oleh ibu ketika masih dalam kandungan agar kelak bisa menjadi seorang Ustadz. Peristiwa yang menimpa para Ustadz akhir-akhir ini di negeri kita, bisa menjadi momentum besar bagi para santri untuk semakin dekat dan semakin bersemangat berkhidmat pada para Ustadz. Momentum ini bisa menjadikan anak-anak muda merasa terpanggil untuk menghentikan kenakalannya dan mulai belajar menjadi seorang santri yang baik. Anak muda yang mungkin hidup di lingkungan sekolah atau kampus umum, namun dalam hati kecilnya ingin merasakan nikmatnya menjadi santri bisa semakin bersemangat untuk datang belajar agama dengan mendatangi Ustadz.

Gerakan “orang gila” justru semakin menambah militansi para santri untuk berkhidmat pada para Ustadz. Karena aku bukan anak seorang Ustadz, maka saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, orang tua mengajariku untuk bersahabat dengan santri senior yang sehari-harinya menghapal Al-Qur’an. Bersahabat dengan beliau adalah salah satu fase awal kehidupan yang tidak terlupakan bagiku, hampir tiap malam menemani dan ikut serta beliau mengaji di rumah-rumah yang sedang berduka karena musibah kematian. Saat masuk di bangku SMP, orang tua mengikutkan aku program pencak silat dan taekwondo kemudian ditugaskan untuk mengantar jemput para Kyai mengisi majelis-majelis ta’lim. Sungguh begitu banyak faidah yang tidak terlupakan ketika mendapat kesempatan untuk bersahabat dengan seorang santri, apalagi bisa mendapat wejangan dan melihat langsung ketawadhuan para Kyai bersama kitab kuning dalam pelukannya.

Waktu kecil, aku dan Ibu sangat berharap bisa mondok dan menjadi seorang santri. Tapi kata ayah, meskipun engkau belajar di sekolah umum tetap bisa belajar agama karena belajar agama adalah wajib bagi setiap muslim. Itulah yang aku jalani, hidup di lingkungan sekolah umum hingga kampus umum, namun dalam hati kecilku ingin tetap merasakan nikmatnya menjadi seorang santri. Saat masuk di bangku SMA, aku mulai mendatangi pengajian Tauhid yang dibawakan oleh Ustadz Dzulqarnain M.Sunusi yang diajak langsung oleh kakak kelas atas rekomendasi kakak. Mengikuti liqo’ bersama Ustadz Bachtiar dan Ustadz Haris Sa’id di mushollah sekolah. Mengkuti pengajian hadist yang dibawakan oleh Ustadz Muhammad Yusran Anshar yang merupakan salah satu program tarbiyah oleh salah seorang murobbi pertama kami; Ustadz Rahmat Camba, juga atas rekomendasi kakak hafidzahumullohu.

Aku ingin jadi Ustadz, maka aku harus dekat dengan Ustadz dan terlebih dahulu menjadi seorang santri. Pada penghujung kuliahku di kampus umum, aku putuskan untuk bisa mondok dan menjadi seorang santri. Salah satu alasan mengapa aku memilih STIBA Makassar, selain lingkungannya yang sudah  terkenal bisa membentuk kepribadian untuk lebih menikmati kelezatan menuntut ilmu dan beribadah adalah aku ingin bisa dekat dan tarbiyah langsung bersama Ustadz Muhammad Yusran Anshar. Itu juga menjadi salah satu alasan berikutnya, kenapa aku pilih mondok di AQC Bogor, selain karena lingkungannya yang mendukung aku ingin bisa lebih dekat dengan Ustadz Bachtiar Nasir. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa menjaga dan memberi keberkahan hidup bagi para Ustadz kami dan cukuplah Allah yang memberikan balasan terbaik.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close