Aktivis Dakwah Zaman Now dan Misi Pembebasan Manusia

Misi Pembebasan Manusia

ketika Rib’i bin ‘Amir ditanya oleh Rustum tentang tujuan kedatangannya ke negeri Persia, beliau berkata; “Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan diri kepada sesama manusia agar mereka menghambakan diri hanya kepada Allah dan mengeluarkan mereka dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat….”

Perkataan ini mengantarkan pada pemahaman yang sangat lengkap untuk memahami makna dari misi pembebasan manusia. Inilah misi para Nabi dan Rasul, “Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” (Qs. Ali ‘Imran: 64) Aktivis dakwah itu membawa misi untuk membebaskan manusia dari menyembah kepada makhluk. Membebaskan manusia dari menyembah kepada atasan. Membebaskan manusia dari menyembah kepada uang. Membebaskan manusia dari perangkap-perangkap iblis. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Seluruh manusia pasti akan mati menuju kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Surga atau neraka.

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (Qs. Ali ‘Imran: 145) Allahlah yang menurunkan hujan dari langit yang dapat menyuburkan tanam-tanaman. Takdir Allah terhadap tiap-tiap manusia telah ditulis di Lauh mahfuzh. “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (Qs. Adz Dzariyat: 22) Persoalan ajal dan rezeki sering kali menjadi penyebab utama seorang manusia menyembah dukun, bos, uang, hawa nafsu bahkan menyembah iblis. Itulah sebabnya mengapa aktivis dakwah sangat penting untuk konsentrasi dalam mengawal misi pembebasan manusia, karena manusia yang bebas tidak akan mengukur kemuliaan dan kehinaan seseorang dengan harta, pangkat, jabatan ataupun popularitas. Manusia yang bebas tidak akan takut mati dan cinta dunia. Manusia yang bebas akan merasakan kelezatan iman, merasakan kenikmatan dalam menyembah Allah semata.

Manusia dibebaskan dari penyembahan kepada selain Allah adalah tujuan utama dari Hak Asasi Manusia (HAM) dalam Islam. HAM itu bukanlah kebebasan mutlak bagi seseorang untuk melakukan apa saja yang menurut pendapatnya itu adalah baik, nikmat, lezat atau bermanfaat tanpa mempertimbangkan perintah dan larangan Allah, halal haram dalam agama, nilai-nilai luhur yang hidup dalam masyarakat. HAM itu harus sejalan dengan hakikat penciptaan manusia di muka bumi ini. HAM itu menuntun seseorang agar tidak celaka di akhirat kelak.

Aktivis Dakwah Zaman Now

Aktivis dakwah zaman now adalah aktivis HAM sejati. Topik tentang HAM dalam perspektif Islam sangat urgen untuk dijelaskan kepada kids zaman now, jangan sampai mereka ikut terjebak dalam arus propaganda barat untuk menjauhkan generasi muda Islam dari agamanya atas nama HAM. Padahal risalah yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diturunkan untuk seluruh ummat manusia di muka bumi ini. “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Qs. Saba’: 28) Islam mengajarkan keadilan dan persamaan kedudukan tanpa memandang bangsa, suku, warna kulit, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata dan bentuk diskriminasi lainnya. Semua sama-sama manusia ciptaan Allah. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs. Al-Hujuraat: 13)

Aktivis dakwah zaman now harus mengetahui problematika yang sedang dihadapi anak muda zaman ini dan mampu memberi solusi. Seperti berdakwah melalui media social sesuai dengan kapasitas diri aktivis dakwah tersebut. Jangan sampai dengan alasan berdakwah via medsos malah ikut terjebak dalam arus yang menghanyutkan. Mari menyampaikan dan membagikan kisah-kisah inspiratif untuk adinda kita di rumah, sekolah, kampus, kantor, grup-grup WA atau di manapun kita beraktivitas. Mari kita sampaikan atau saling mengingatkan tentang bagaimana Islam memuliakan Bilal bin Rabah al Habasyi. Seorang yang tadinya budak berkulit hitam legam menjadi mulia di sisi Allah, bahkan terompahnya sudah terdengar di syurga padahal kakinya masih menapak di dunia. Islam tidak memandang anda dari keturunan bangsawan atau bukan. Keturunan Arab ataupun Ethiopia sama di sisi Allah. Islam tidak memandang anda anak siapa atau profesi orang tua anda apa; anak Kyai, Ustadz, pejabat, pengusaha, petani, nelayan, tukang becak, youtuber, dan lainnya. Walaupun tentu persoalan nasab sangat penting dalam Islam. Islam memberikan kesempatan dan peluang yang sama. Islam memuliakan seorang hamba -siapapun- yang dekat kepada-Nya dan menghinakan siapapun yang jauh dari-Nya.

Pada musim politik tahun ini, banyak tokoh masyarakat atau pejabat yang semakin mendekat pada Islam. Begitupun fenomena semakin banyaknya artis yang mulai hijrah, Walhamdulillah. Semoga kita semua dianugrahkan keikhlasan dan kestiqomahan. Maka penting bagi aktivis dakwah zaman now untuk menyampaikan dan saling mengingatkan tentang kisah Jabalah bin Ayham. Seorang Raja yang mulai hijrah menuju Allah, tapi belum bisa move on dari statusnya sebagai seorang Raja. Ketika Raja Ghassan ini sedang thawaf pada musim haji, seorang Arab Badui menginjak ujung kain ihramnya. Jabalah pun marah dan menampar Badui ini hingga hidungnya terluka. Si Badui dari Fazarah hanya bisa mengadu kepada Khalifah Umar bin Khattab. Dipanggillah Raja Ghassan ini menghadap Umar Radiallahu ‘Anhu dan ia mengakuinya. Maka hukum qishas pun ditegakkan, jabalah harus meminta maaf kepada orang yang ia tampar atau mendapat balasan yang setimpal dengan ditampar pula di depan umum. Jadi qishas itu bukan hanya tentang nyawa dibalas nyawa, tapi tentang suatu perbuatan yang dibalas dengan perbuatan yang serupa; seperti mata dengan mata, hidung dengan hidung atau telinga dengan telinga. Bahkan pada luka pun ada qishasnya, tapi tentu saja butuh perincian lebih lanjut.

Jaballah tidak menerima keputusan hukum Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Ia gengsi meminta maaf kepada rakyat jelata apalagi ditampar oleh seorang badui di depan umum. Jabalah berkata “Bagaimana mungkin engkau melaksanakan hukum qishas padaku padahal aku adalah seorang pemilik mahkota kerajaan dan ia hanya rakyat biasa?”

Kata Umar Radallahu ‘Anhu  “Sesungguhnya Islam telah menyamakan antara kamu berdua.”
Karena kesombongan dan kebodohannya akan kemuliaan ajaran Islam yang menyamakan kedudukan seorang raja dan rakyat jelata, ia pun kembali murtad. Meninggalkan jalan hidayah menuju penyesalan abadi.

Ketika seorang aktivis dakwah zaman now bermimpi untuk ikut berkontribusi membebaskan Al-Quds dari penjajahan, mari kita mulai dari mejalankan misi pembebasan diri sendiri dan manusia dari belenggu kesyirikan. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menganugrahkan kita generasi yang bertauhid.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *