Ustadz Mengurus Negara

Pondasi bangunan hukum dan demokrasi hari ini nampaknya semakin rapuh, seperti beberapa bangunan infrastruktur yang sudah roboh. Penegakan hukum nampak hendak memperlihatkan ketegasan di depan publik, tapi yang ada malah mengakibatkan keretakan dalam kehidupan bernegara. Seolah ada pembungkaman secara massif agar para ustadz tidak membicarakan urusan negara dan kepemimpinan di masjid-masjid. Padahal Al-Qur’an berbicara tentang sistem hukum dan politik, prinsip-prinsip keadilan dan kesejahteraan dalam kehidupan bernegara. Al-Qur’an berbicara tentang urgensi adanya pemimpin yang bertanggung jawab dalam mengurus negara. Seorang pemimpin itu harus mampu membawa rakyatnya pada arah kebaikan dan mencegah dari keburukan. Bekerja agar seluruh rakyatnya tidak merasa terzalimi, bukan sekedar kerja, kerja dan kerja yang mempertontonkan kesederhanaan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Kepemimpinan yang mengurus urusan manusia termasuk kewajiban agama yang paling besar, bahkan agama dan dunia tidaklah tegak kecuali dengannya. Karena Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan amar ma’ruf dan nahi munkar, dan yang demikian itu tidaklah sempurna melainkan dengan kekuatan dan kepemimpinan. Demikian juga kewajiban Allah lainnya seperti jihad, menegakkan keadilan, haji, shalat Jumat, hari raya, menolong orang terzalimi, dan menegakkan hudud. Semua ini tidaklah sempurna kecuali dengan kekuatan dan dilakukan oleh pemerintah.”

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu)” (Qs. Al Hadid: 25)

Ayat ini mengantarkan pada pemahaman menyeluruh terkait tujuan dari sistem politik dalam Islam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Agama ini tidak akan tegak kecuali dengan Al Kitab, mizan (neraca), dan besi (senjata), maka ilmu dan agama akan tegak dengan Al Kitab, hak-hak dan transaksi serta serah-terima keuangan akan tegak dengan mizan (neraca), dan hukum hudud akan tegak dengan besi.” Berdasarkan Qur’an surah Al Hadid ini dapat dirumuskan metodologi untuk mencapai tujuan pemerintahan dalam Islam dengan menggunakan Al Kitab, mizan (neraca), dan besi (senjata). Al Kitab adalah pedoman utama untuk mendapatkan petunjuk yang diketahui kandungannya melalui para ulama. Mencerdaskan kehidupan bangsa dengan masyarakat yang cinta ibadah dan cinta ilmu. Mizan adalah neraca untuk menegakkan keadilan melalui para pejabat negara yang bertugas di seluruh Provinsi. Memajukan kesejahteraan umum dengan memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar seluruh warga negara secara adil. Besi adalah senjata untuk menciptakan rasa aman dan kedamaian yang dilakukan oleh para penegak hukum. Senjata digunakan untuk melindungi seluruh warga negara dan ikut serta dalam perdamaian dunia.

Oleh karena itu, harus ada diantara para ustadz yang siap dan mempersiapkan diri dengan ilmu dan kekuatan untuk memegang kekuasaan agar dapat mengurusi negara dengan arah yang benar. Namun begitulah para ustadz, semakin berilmu semakin takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Takut melakukan kebaikan atau meninggalkan kebaikan karena manusia. Para ustadz sama sekali tidak pernah gentar berhadapan dengan mereka kaum kapitalis dan sosialis, hanya saja mereka takut menjadi pemimpin yang zalim. Mereka hanya membayangkan bagaimana beratnya pertanggung jawaban seorang pemimpin di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Mempertanggung jawabkan perbuatan diri sendiri saja begitu berat, bagaimana dengan mempertanggung jawabkan seluruh rakyat yang dipimpinnya. Namun selain rasa takut, yakinlah bahwa harapan itu masih ada.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *